Ancaman Ketua DPRD Sukabumi Kepada Awak Media Menuai Kecaman Dari Berbagai Kalangan

Diterbitkan Tanggal: 16 / 06 / 17

Kategori: | JAWA BARAT, NEWS, TODAY |

NUSANTARAEXPRESS, BOGOR Ancaman Ketua DPRD Sukabumi Agus Mulyadi, kepada awak media lantaran tidak terima disebut-sebut sebagai pemilik restoran Umi Tambakan di Jalan Raya Sukabumi, Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong yang disegel Satpol PP beberapa waktu lalu karena belum mengantongi IMB disaat sejumlah anggota Komisi III DPRD Kabupaten Bogor melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke lokasi restoran pada Selasa (13/06/2017), menuai kecaman dari berbagai kalangan.

Ketua PWI Kota Bogor, H Tarwono mengatakan, sesuai Undang-Undang Pokok PERS jika narasumber merasa tidak puas ataupun keberatan dengan isi pemberitaan maka bisa melayangkan surat keberatan tentang bagian mana dalam sebuah berita yang dianggap tidak sesuai dan redaksi media wajib memuat berita klarifikasi sebagai hak jawab, tanpa harus melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan.

“Awak media yang melakukan peliputan itu dilindungi UU. Kalau memang keberatan, bisa melayangkan surat keberatan ke redaksi media yang memuat pemberitaan. Jika sudah ada ancaman apalagi pemukulan, sebaiknya lapor ke pihak kepolisian,” ungkapnya.

Praktisi Hukum, Edison SH mengatakan, dari sisi etika pernyataan Ketua DPRD Sukabumi yang dinilai tidak bisa mengendalikan emosional patut disesalkan apalagi ada bahasa ancaman. Dari koridor hukum, kata dia lagi, bilamana awak media merasa terancam keselamatannya atas ucapan tersebut bisa menempuh jalur hukum alias melapor ke aparat kepolisian atas dugaan ancaman dan perbuatan tidak menyenangkan serta junto UU PERS Nomor 40 tahun 1999.

“Bagaimana bisa seorang wakil rakyat berbuat seperti itu? Kalau memang tidak merasa sebagai pemilik restoran Umi Tambakan, kan bisa menempuh cara lain tidak harus mengancam awak media,” kata dia saat dihubungi via selulernya.

Ia juga menambahkan, karena telah masuk dalam ranah etika, sudah sepantasnya Badan Kehormatan Dewan (BKD) mengambil sikap atau tindakan terhadap yang bersangkutan. Disisi lain, meskipun dalam pengakuannya pemilik Umi Tambakan adalah family atau keluarganya namun kehadiran Agus Mulyadi yang notabenenya merupakan anggota dewan jelas menimbulkan kecurigaan publik.

“Ada cara lebih beretika daripada mengancam akan membunuh wartawan yang menulis pemberitaan dirinya, misalnya dengan melayangkan surat keberatan kepada redaksi media yang telah memuat pemberitaan,” imbuhnya.

Sebelumnya, meskipun telah diberikan penjelasan bahwa yang memberikan keterangan pemilik restoran Umi Tambakan yakni Agus Mulyadi adalah pihak Kecamatan Cigombong yang diwakili Kasie Trantibnya saat awak media mengkonfirmasi perihal kepemilikan bangunan yang disegel Satpol PP itu, namun Agus tetap tidak menerima dan mengancam beberapa awak media.

“Bangunan ini bukan milik saya, tapi saudara saya bernama Asep. Ga ada urusan dengan saya, bila perlu saya belah kepala anda,” ujarnya kepada wartawan dilokasi Umi Tambakan. [Andy Djava] [Media Network-News Warta Publik][*Red]

         



(Visited 39 times, 1 visits today)
Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!