3485: Kendalikan Surplus Beras Tanjabtim, Bappeda Siasati Program Klaster Pertanian’

Diterbitkan Tanggal: 18 / 03 / 18

Kategori: | BERITA DESA, JAMBI, TODAY |

NUSANTARAEXPRESS, MA SABAK – Ketahanan pangan swasembada beras merupakan issu nasional yang menjadi bagian issu penting yang harus diselesaikan, guna menghindari arus beras import yang berdampak merugikan petani, yaitu dengan melakukan upaya regulasi  penanganan yang serius dari pihak stake holder.

Ketahanan pangan bagian yang terpenting yang harus diselesaikan dengan sistimatik yang mendasar dan dipertanggungjawabkan secara permanen.

Patut untuk diappresiasi bahwa Bupati Tanjabtim H Romi Hariyanto,SE telah melakukan terobosan keberpihakan kepada petani dengan kebijakan memberlakukan pembelian beras bagi kebutuhan konsumsi bawahannya dalam lingkup PNS yang bertujuan supaya petani lebih terangsang menggiatkan pertanian swasembada beras.

Bersamaan tuntutan yang berkembang bagaimana  kedepan Pemerintahan Tanjabtim  “Merakyat”  memiliki ketahanan komuditas beras yang kuat pada tingkat lokal, diharapkan menjadi perhatian yang berkelanjutan, yaitu bagaimana  kebutuhan stok beras yang aman memenuhi konsumsi dan harga gabah kering tingkat  petani terjaga, dan lebih penting lagi  para petani tidak terjerat dari genggaman tengkulak maupun perdagangan ilegal rentenir.

Deretan sejumlah yang dimungkinkan bisa terjadi dalam penanganan ketahan pangan yang sebaiknya menghadirkan pemikiran serius dengan kesimpulan solusi skema terbaik dalam pemecahan masalah.

Diketahui bahwa Tanjabtim memiliki centra lumbung padi di Desa Simpang Datok Kecamatan Nipah Panjang dengan luas tanam 750 – 1250 ha dengan produksi gabah kering 4,5 ton/ha dengan perkiraan standar luas 750 ha x 4,5 ton x 2 musim tanam/tahun, total 22 rb ton surplus 86 ton beras dari konsumsi masyarakat Tanjabtim, sumber data melalui Kadis Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura, Sunarno,SP.

Persoalan mulai muncul pada pasca musim panen, petani menjual hasil panennya kepada pedagang yang selanjutnya dengan waktu tertentu beras pun beredar keluar dari Tanjabtim, sehingga pasar tidak mampu mempertahankan produksi local dan sistem pasar berubah dengan masuknya beras jenis lainnya untuk memenuhi konsumsi lanjutan, kesimpulan akhir memungkinkan produk hilang dari perederan, bisa berdampak langka nya beras yang dimaksud.

Penanganan tentu dibangunnya regulasi untuk menampung hasil panen yang mungkin saja berpayung Koperasi atau UKM maupun lembaga dari BUMD, hanya ini lagi lagi mungkin terkait persoalan permodalan.

Pengalihan daya tampung hasil panen suatu akses padat karya Pedesaan yang mendorong pengurangan pengangguran,dalam hal ini Pemkab Tanjabtim mendorong terciptanya Kluster Pertanian.

Ini mungkin solusi sebagai rujukan referensi untuk mempertahankan swasembada beras yang akhirnya mampu menjawab ancaman terhadap kelangkaan beras sekaligus pencapaian petani sejahtera,terlebih lagi harga beras ditingkat konsumen cendrung terkontrol dengan standar normal.

Menyikapi hal ini Kepala Bappeda Ali Fahrudin, saat dihubungi Jum’at (16/03) mengatakan akan menyesiasati bagaimana sistem dan aturan yang tidak menabrak regulasi.

“Program Klaster Pertanian yang berhubungan dengan investasi modal apakah dengan  menggandeng Perbankan atau Koperasi maupun BUMD ini betul-betul kita pelajari dulu, intinya ini menjadi PR Kita”, kata Ali Fahrudin oktimis. [Jdk/Red][MEG]

         

(Visited 243 times, 1 visits today)
Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!